Kebahagiaan
Apa sih yang kita kejar dalam hidup ini? katanya sih kebahagiaan. Apapun yang dilakukan manusia, meskipun tampaknya tidak masuk akal adalah demi kebahagiaannya. Definisi kebahagiaan bagi tiap orang itu berbeda, karena itu kita kadang gak bisa melihat bahwa mereka melakukan sesuatu untuk membuat mereka bahagia.
Dari artikel yang berjudul The Futile Pursuit of Happiness, ternyata kebanyakan dari kita gak bisa mengerti hal-hal yang membuat kita bahagia atau tidak bahagia.
Kita sering menyangka kalo kita dapet sesuatu yang jadi keinginan kita, kita bakal bahagia, misalnya kalo kita dapet mobil atau punya rumah kita akan bahagia. Atau sebaliknya, kita merasa kalo kita nggak bisa mencapai tujuan kita atau kalo kita kehilangan sesuatu yang kita sayangi kita bakal merasa down, gak bahagia.
Tapi ternyata nggak demikian. Kalo kita mencapai keinginan kita, ternyata kita cuma akan bahagia sebentar, lalu lama-lama bosan. Dan sebaliknya, ternyata apapun yang terjadi dalam hidup kita, ternyata kita akhirnya bisa menerima dan menganggapnya jadi hal yang biasa.
Jadi apa sih kebahagiaan sejati itu? Kalo menurutku sih bukan sesuatu dari dunia ini, tapi yang dari Atas. Dan kalo kita sudah mendapatkan itu, setiap saat adalah saat yang membahagiakan. Kebahagiaan itu bukan di masa lalu atau masa depan, bukan karena suatu benda atau seseorang, dan tidak pula di tempat lain. Kebahagiaan itu di sini, saat ini, bukan karena suatu hal, atau karena seseorang. Kita bahagia karena kita bahagia.
Tapi sebenarnya saat ini aku mau bicara soal kebahagiaan tertentu, kebahagiaan karena seseorang. Dengan cara yang sulit, aku udah belajar di dalam hidup ini: Janganlah menggantungkan kebahagiaanmu pada seseorang. Banyak sekali orang yang secara sadar atau tidak melakukan hal itu dalam berbagai bentuk. Dan akhir-akhir ini , aku banyak banget melihat itu disekitarku.
Kadang kita merasa berbahagia bersama seseorang, tanpa menyadari bahwa itu mengambil kebahagiaan orang lain. Kadang kita merasa membuat orang lain bahagia, padahal menghalangi kebahagiaannya yang lebih besar. Kita sering mengikatkan diri kita pada orang lain, tanpa memikirkan kebahagiaan orang tersebut. Dan mungkin tidak memikirkan yang lebih jauh: andaikan Anda mengikatnya terlalu keras, apa yang terjadi jika Anda berpisah dari orang tersebut?
Tapi yang paling sering adalah: kita mengharapkan orang berubah. Kita berharap dia berubah untuk kebaikannya, untuk kebahagiannya. Tapi apakah itu benar? apakah kita melakukan itu bukan karena keegoisan kita? apakah benar itu yang terbaik untuknya? apakah benar memang kita yang harus melakukannya? Mengapa kita begitu memaksakan diri kita kepada orang lain jika hasilnya jelas tidak terlihat, bahkan jelas merusak Anda sendiri?
Sebenarnya, dalam tulisan panjang yang topiknya kurang fokus ini, aku cuma mau mengingatkan: apakah demi keegoisan Anda sendiri, Anda sudah merusak kebahagiaan orang lain? Apakah Anda masih terpaku pada seseorang di hidup Anda? Apakah Anda sudah mencari kebahagiaan yang sejati?
When the door of happiness closes, another opens; but at times we keep looking at the closed door for so long that we don't see the other one." −− Helen Keller
